Related Posts with Thumbnails

Saturday, May 29, 2010

KIAT MEMBINA KELUARGA HARMONIS

Keluarga adalah anugerah yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. Menjaga dan memelihara keutuhan keluarga adalah hal yang harus selalu diperhatikan. Dalam sebuah keluarga kita harus saling meningisi satu sama lainnya. Semua perbedaan baik pendapat atau kebiasaan harus saling dipahami agar keluarga dapat hidup rukun.

Membina keluarga yang harmonis itu adalah tugas bersama dalam anggota keluarga. Penyesuaian diri dalam keluarga itu dibutuhkan agar keluarga damai dan tidak ada terjadi di percekcokan yang dapat mengganggu keharmonisan keluarga.

Banyak kita lihat dikalangan masyarakat terjadi perceraian, semua itu terjadi karena tidak adanya rasa saling memahami dan penyesuaian diri yang tidak baik.

B. Hakekat Keluarga Harmonis

Harmonis adalah perpaduan dari berbagai warna karakter yang membentuk kekuatan eksistensi sebuah benda. Perpaduan inilah yang membuat warna apa pun bias cocok menjadi rangkaian yang indah dan serasi.

Warna hitam, misalnya, kalau berdiri sendiri akan menimbulkan kesan suram dan dingin. Jarang orang menyukai warna hitam secara berdiri sendiri. Tapi, jika berpadu dengan warna putih, akan memberikan corak tersendiri yang bias menghilangkan kesan suram dan dingin tadi. Perpaduan hitam-putih jika ditata secara apik akan menimbulkan kesan dinamis, gairah, dan hangat.

Seperti itulah seharusnya rumah tangga dikelola. Rumah tangga merupakan perpaduan antara berbagai warna karakter. Ada karakter pria, wanita, anak-anak, bahkan mertua. Dan tak ada satu pun manusia di dunia ini yang bisa menjamin bahwa semua karakter itu serba sempurna. Pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Tidak akan terbentuk irama yang indah tanpa adanya keharmonisan antara nada rendah dan tinggi. Tinggi rendah nada ternyata mampu melahirkan berjuta-juta lagu yang indah.

Dalam rumah tanga, segala kekurangan dan kelebihan saling berpadu. Kadang pihak suami yang bernada rendah, kadang isteri bernada tinggi. Di sinilah suami-isteri dituntut untuk menciptakan keharmonisan dengan mengisi kekosongan-kekosongan yang ada di antar mereka. Jadi, keluarga harmonis adalah keluarga yang hidup damai.

Keluaga harmonis merupakan tanggungjawab suami-isteri, bukan hanya isteri ataupun suami saja. Keluarga bisa harmonis, suami-isteri dapat rukun jika masing-masing mensyukuri apa yang ada pada pasangannya. Masalah tidak ada kecocokan 100 % merupakan hal yang biasa karena suami-isteri adalah dua orang yang berbeda, yang dibesarkan oleh keluraga yang berbeda, untuk itu diperlukan saling pengertian kedua belah pihak agar dapat menyesuaikan diri. Wanita harus dapat membuat pasangannya merasa dibutuhkan secara moril, bukan secara materi, janganlah terlalu berharap banyak akan pasangan kita, selagi dia tidak mampu.

Tidak ada yang namanya kodrat perempuan dibawah suami. Suami-isteri sejajar, mitra yang saling bersatu padu menjalankan bahtera rumah tangga. Keputusan diambil berdasarkan musyawarah mufakat dan pembagian tugas rumah tangga dibagi rata dan saling bertanggungjawab. Suami-isteri ibarat puzzle, potongannya saling melengkapi satu sama lain. Apabila ada potongan yang tidak pas atau hilang maka puzzle tidak akan lengkap, demikianlah rumah tanga itu.

Suami-isteri perlu meluangkan waktu bersama seperti re-honeymoon, atau berjauhan untuk sementara dengan demikian akan timbul rasa kangen satu sama lain saat berjauhan.

Rumah tangga yang sudah tidak harmonis, tidak seharusnya menjadi tanggungjawab istri untuk mengharmoniskannya kembali. Jika seorang ibu berpikir demikian karena naluri keibuan merasa tidak rela anak-anak harus menanggung akibat dari kekacauan rumah tangga yang seharusnya bisa kita kendalikan dengan baik. Kalau ketidakcocokan itu memang sudah tidak dapat diperbaiki lagi, dan berpisah dianggap jalan yang terbaik, lebih baik berpisah dari pada anak dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis, anak-anak berhak dibesarkan dalam kedamaian.

Perceraian tidak selalu berakibat buruk, apalagi kalau setelah bercerai hubungan orang tua masih baik. Anak akan tetap merasakan kasih sayang dan akan belajar menerima kenyataan tanpa merasa terluka.

C. Fungsi Fungsi Keluarga Harmonis

Dalam sebuah keluarga harmonis, ada beberapa fungsi keluarga yang harus terpenuhi atau yang dicapai setiap anggota keluarga, seperti :

a. Fungsi Kasih Sayang

Dalam keluarga, suami-istri harus saling memberikan kasih sayang, perhatian, penghargaan, sokongan dan cinta. Jika suami istri memiliki anak, maka mereka sebagai orang tua harus memberikan kasih sayang penuh sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak mereka. Kasih sayang orang tua yang diterima anak berpengaruh kepada kepribadiannya sehingga anak cenderung dapat memberikan kasih sayang pada orang lain, apalagi keluarga sendiri.

b. Fungsi Ekonomi

Keluarga merupakan suatu unit ekonomi mandiri untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarganya. Suami-istri harus memenuhi kebutuhan itu dengan bekerja keras, halal, dan tulus. Apabila ada kekurangan, maka angota keluarga harus saling mengerti sehingga tidak terjadi perselisihan yang mengakibatkan kurang harmonisnya kehidupan dalam keluarga.

c. Fungsi Status

Keluarga memberikan prestise/status terhadap anggotanya, karena bisa saja keluarga itu terkenal kebaikannya, kesalehan, kekayaan, dan lain sebagainya, sehingga anggota keluarga itu dalam lingkungannya bias diberi gelar, dia itu berasal dari yang saleh, atau macam-macam gelar lainnya.

d. Fungsi Pendidikan

Dalam keluarga suami istri bertanggungjawab untuk membimbing dan mendidik anak-anaknya dan memberikan kesempatan kepada anak untuk memperoleh pendidikan yang layak, sehingga dalam keluarga itu anak bisa menghargai orang tuanya setelah memperoleh pengetahuan di lingkungan sekolahnya.

e. Fungsi Keagamaan Keluarga harus selalu menanamkan dasar agama pada anggota keluarganya, terutama anak-anak. Dengan adanya dasar agama yang baik anak akan tahu apa kewajiban mereka sebagai anak, begitu juga dengan orang tuanya.

f. Fungsi Perlindungan< Semua anggota keluarga bertanggungjawab untuk selalu melindungi orang tua memberikan perlindungan fisik dan psikis kepada anak-anaknya. Sebaliknya setelah anak-anak besar dia juga bertanggungjawab untuk melindungi orang tuanya g. Fungsi Kreasi

Dalam keluarga perlu diciptakan suasana rekreasi situasi yang menyegarkan pemikiran dan perasaan sehingga anak dapat bergembira dan bersantai dengan saudara dan orang tua mereka, dan dapat menambah keakraban anggota keluarga.

Jadi, apabila angota keluarga sudah memenuhi fungsi tersebut, maka akan tercipta keluarga yanbg damai, aman, penuh dengan warna yang biasa disebut dengan keluarga harmonis.

D. Kriteria Keluarga Harmonis

Ada beberapa criteria keluarga harmonis karena tercapainya keberhasilan dalam penyesuaian diri dalam keluarga :

a. Kebahagiaan Suami Istri

Suami dan istri yang bahagia memperoleh kepuasan dari peran yang mereka lakoni bersama. Mereka juga mempunyai cinta yang matang dan mantap satu sama lain. Mereka juga bisa menerima peran sebagai orang tua setelah memperoleh anak.

b. Hubungan yang baik antara anak dan orang tua

Hubungan yang baik antara anak dengan orang tua mencerminkan keberhasilan penyesuaian diri di keluarga, dan ini dapat menciptakan suasana keluarga yang diwarnai kasih sayang, saling menghargai dan terbuka satu sama lain.

c. Penyesuaian yang baik dari anak-anak

Apabila anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan teman sebayanya, itu dapat mencerminkan bahwa di dalam keluarganya tercapai keberhasilan dalam penyesuaian diri yang baik antara anggota keluarga sehingga sifat itu dibawa ke lingkungannya.

d. Kemampuan untuk memperoleh kepuasan dari perbedaan pendapat

Perbedaan pendapat diantara anggota keluarga tidak dapat dielakkan, biasanya perbedaan pendapat itu berakhir dengan salah satu kemungkinan :

1. Adanya ketegangan tanpa pemecahan

2. Salah satu mengalah demi perdamaian

3. Masing-masing anggota keluarga mencoba untuk saling mengerti pandangan dan pendapat orang lain.

Dalam keluarga yang harmonis kemungkinan ketiga itu yang akan dilakukan yaitu saling memahami dan menghargai pendapat orang lain.

e. Kebersamaan dalam Keluarga

Jika penyesuaian diri dalam keluarga berhasil, keharmonisan keluargapun akan terjaga, keluarga yang harmonis selalu meluangkan waktu untuk berkumpul bersama anggota keluarga dan berusaha untuk selalu menjaga keakraban sesame anggota keluarga.

f. Penyesuaian yang baik dalam masalah keuangan

Dalam keluarga biasanya salah satu sumber perselisihan adalah masalah keuangan. Keluarga perlu mempelajari cara membelanjakan pendapatan yang diperoleh agar ter hinder dari hal yang tidak diinginkan dan dapat merasakan kepuasan dari hasil usaha yang dilakukan. Bisa juga dalam hal ini istri membantu suami untuk menambah pendapatan keluarga.

g. Penyesuaian yang baik dari pihak keluarga masing-masing pasangan
Apabila suami istri mempunyai hubungan yang baik dengan masing-masing pihak keluarga pasangan, misalnya mertua dan ipar masing-masing pasangan, kemungkinan besar akan terhindar dari ketegangan keluarga,uang dapat menimbulkan percekcokan bahkan bisa berakhir dengan hubungan yang tidak baik.

E. Penyebab Ketidakharmonisan dalam keluarga

Penyebab dari keluarga yang tidak harmonis ini dapat diuraikan dalam beberapa poin, seperti :
1. Masalah Ekonomi
Masalah ekonomi atau keuangan sering sekali menimbulkan perselisihan dalam anggota keluarga, terutama suami istri. Istri ter kadang susah dalam membagi keuangan karena pengeluaran tidak sama dengan pendapatan hal ini kalau tidak dipahami dan dimengerti oleh kedua belah pihak dapat menimbulkan hal yang tidak diinginkan dalam keluarga, dan bahkan dapat menimbulkan perceraian.

2. Peran dalam Keluarga
Suami istri memiliki peranan sendiri dalam sebuah keluarga, tetapi kadang-kadang hal itu tidak mereka pahami, sehingga timbul rasa saling meyalahkan. Misalnya saja dalam pengasuhan anak, terkadang suami menyerahkan sepenuhnya kepada istri sehingga kalau ada kesalahan yang dilakukan anak, maka istri disalahkan dan is tri tidak bias menerima hal itu yang akhirnya menimbulkan pertengkaran.

3. Tidak bisa menerima kekurangan yang ada pada pasangan

4. Kurangnya perhatian dan kasih sayang
Apabila dalam angota keluarga tersebut tidak ada perhatian dan kasih sayang, maka keluarga tersebut akan terasa gersang. Anggota keluarga merasa tidak adanya kehidupan yang nyaman jika mereka berada di rumah, sehingga membuat hubungan keluarga tersebut bertambah renggang.

5. Perbedaan Pendapat
Perbedaan pendapat ini bukanlah hal yang harus diperdebatkan, tetapi terkadang hal ini tidak diperhatikan. Masing-masing orang ingin pendaptnya diterima, sehingga menimbulkan ketegangan yang tidak ada mendapatkan pemecahan yang dihadapi.

6. Penyesuaian hubungan seksual
Banyak orang dewasa merasa kepuasan seksualnya tidak terpenuhi karena keadaan yang dialaminya di rumah atau terganggu dengan tingkah laku anak-anaknya yang bermacam-macam, sehingga hubungan dalam anggota keluarga tersebut kurang harmonis.

7. Hubungan dengan anggota keluarga pasangan yang tidak baik

8. Hubungan dengan anak-anak yang tidak dapat dijaga kerukunannya yang disebabkan keinginan dari orang tua yang tidak dipenuhi oleh anak, yang dapat menimbulkan rasa kecewa bagi kedua belah pihak.

Rasa kecewa dan tidak puas bisa menghadapi tiap orang. Bisa perorangan, bisa juga missal. Bisa sederhana, dan bisa dahsyat. Kekecewaan memang dapat berakibat macam-macam, dengan kadar berbeda. Kekecewaan yang memupuk akan berakibat fatal. Apalagi, jika tidak hanya melanda perorangan.

Seorang ayah akan kecewa jika melihat anaknya tak menuruti nasihatnya. Sebaliknya, sang anak kecewa terhadap ayahnya karena tak mengerti kemauannya. Jika berlarut, bias jadi hubungan kasih dayang ayah-anak terlupakan. Keduanya pun bisa bermusuhan. Ada anak kecewa terhadap orangtuanya karena permintaan-nya tak dipenuhi. Padahal, boleh jadi bukan materi permintaannya yang ditolak. Tapi, waktunya yang tidak tepat. Sebaliknya, ada orangtua yang begitu mendengar permintaan anaknya, langsung marah. Padahal, ia sebetulnya tetap akan mengabulkan permintaan anaknya. Kemarahannya itu hanya karena memang jiwa sang ayah begitu. Inilah hal yang menyebabkan keluarga tidak harmonis.

F. Kiat Menciptakan Keluarga Harmonis
Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga, diantaranya adalah :
1. Jangan melihat ke belakang
Jangan pernah mengungkit-ungkit alas an saat awal menikah. “Kenapa saya waktu itu mau menikah dengan dia ya ? Kenapa tidak saya tolak?” Buang jauh-jauh lintasan pikiran ini.
Langkah itu sama sekali tidak akan menghasilkan perubahan. Justru, akan menyeret ketidakharmonisan yang bermula dari masalah sepele menjadi pelik dan kusut. Jika rasa penyesalan berlarut, tidak tertutup kemungkinan ketidakharmonisan berujung pada perceraian. Karena itu, hadapilah kenyataan yang saat ini kita hadapi. Inilah masalah kita. Jangan lari dari masalah dengan melongok ke belakang. Atau, na’udzubillah, membayangkan sosok lain di luar pasangan kita. Hal ini akan membuka pintu setan sehingga kian meracuni pikiran kita.

2. Berpikir objektif
Kadang, konflik bias menyeret hal lain yang sebetulnya tidak terlibat. Ini terjadi karena konflik disikapi dengan emosioanl. Apalagi sudah melibatkan pihak ketiga yang mengetahui masalah internal rumah tangga tidak secara utuh. Jadi, cobalah lokalisir masalah pada pagarnya. Lebih bagus lagi jika dalam memetakan masalah ini dilakukan dengan kerjasama dua belah pihak yang bersengketa. Tentu akan ada inti masalah yang perlu dibenahi.
Misalnya, masalah kurang penghasilan dari pihak suami, jangan disikapi emosional sehingga menyeret masalah lain. Misalnya, suami yang tidak becus mencari duit atau suami dituduh sebagai pemalas. Kalau ini terjadi, reaksi balikpun terjadi. Suami akan berteriak bahwa si isteri bawel, materialistis, dan kurang pengertian.
Padahal kalau mau objektif, masalah kurang penghasilan bias disiasati dengan kerjasama semua pihak dalam rumah tangga. Tidak tertutup kemungkinan, istripun ikut mencari penghasilan, bahkan bias sekaligus melatih kemandirian anak-anak.

3. Lihat kelebihan pasangan, jangan sebaliknya
Untuk menumbuhkan rasa optimistis, lihatlah kelebihan pasangan kita. Jangan sebaliknya, mengungkit-ungkit kekurangan yang dimiliki. Imajinasi dari sebuah benda, bergantng pada bagaimana kita meletakkan sudut pandangnya. Mungkin secara materi dan fisik, pasangan kita mempunyai banyak kekurangan. Rasanya sulit sekali mencari kelebihannya. Tapi, di sinilah uniknya berumah tangga. Bagaimana mungkin sebuah pasangan suami istri yang tidak saling cinta bisa punya anak lebih dari satu.

Berarti, ada satu atau dua kelebihan yang kita sembunyikan dari pasangan kita. Paling tidak, niat ikhlas dia dalam mendampingi kita karena Allah sudah merupakan kelebihan yang tiada tara. Luar biasa nilainya di sisi Allah. Nah, dari situlah kita memandang. Sambil jalan, segala kekurangan pasangan kita itu dilengkapi dengan kelebihan yang kita miliki. Bukan malah menjatuhkan atau melemahkan semangat untuk berubah.

4. Sertakan sakralitas berumah tangga
Salah satu pijakan yang paling utama seorang rela berumah tangga adalah karena adanya ketaatan pada syariat Allah. Padahal, kalau menurut hitung-hitungan materi, berumah tangga itu melemahkan. Justru di situlah nilai pahala yang Allah janjikan.

Ketika masalah nyaris tidak menemui ujung pangkalnya, kembalikanlah itu kepada sang pemilik masalah, Allah SWT. Pasangkan rasa baik sangka kepada Allah swt. Tataplah hikmah di balik masalah. Insya Allah, ada kebaikan dari semua masalah yang kita hadapi. Lakukanlah pendekatan kepada sang khalik, jangan bosan berdo’a, dengan berdo’a kepada Allah, masalah yang berat bisa terlihat ringan dan secara otomatis solusi akan terlihat di depan mata.
5. Menciptakan kehidupan keluarga yang menyenangkan dan membahagiakan
6. Menjamin perasaan aman pada tahun kehidupan berikutnya
7. Melaksanakan tanggungjawab bersama
8. memperlihatkan keakraban bersama sebagai pasangan
9. Membina hubungan dengan anak-anak
10. Membina kedekatan dengan saudara-saudaranya yang lain
11. memperkuat nilai-nilai kehidupan yang benar berarti bagi kehidupan.

G. Kesimpulan

Keluarga harmonis adalah keluarga yang hidup damai seluruh anggota saling menyayangi dan menghargai, suka dan duka dihadapi bersama dengan penuh ketulusan.Fungsi-fungsi keluarga terpenuhi dengan baik agar keharmonisan dalam keluarga itu dapat terbina.

Penyebab dari ketidakharmonisan dalam keluarga adalah pemyesuaian diri yang tidak baik dan tidak bisa saling memahami antatra angota keluarga. Perbedaan pendapat yang terjadi dikeluarga dibesar-besarkan dan kurangnya rasa saling menghargai.

Keluarga harmonis itu bisa menyesuaikan diri antar sesame anggota keluarga dan saling menyayangi.Agar keluarga itu terbina keharmonisannya keluarga bisa saling terbuka satu sama lain, tidak melihat kebelakang dan berpikir objektif terhadap sesama anggota keluarga.

1 comments:

Ahmad Baihaqi said...

wah tulisan yang mantap banget gan. aku suka membacanya. renyah dan penuh makna. i like it

Post a Comment

 
© Copyright by Perjalanan Hidup  |  Template by Blogspot tutorial