Related Posts with Thumbnails

Sunday, September 2, 2012

KUMPULAN SKEMA ELEKTRONIKA: Rangkaian Pembangkit Listrik Tenaga Matahari

KUMPULAN SKEMA ELEKTRONIKA: Rangkaian Pembangkit Listrik Tenaga Matahari

Baca Selengkapnya

Monday, July 2, 2012

Restoring Family Links ( RFL )


Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan bencana di dunia.
Wilayah Indonesia tepat berada pada cincin api (ring of fire) yakni pertemuan
tiga lempeng tektonik besar yaitu Indo-Australia, Eurasia dan Pasific. Tabrakan
antar lempeng tektonik tersebut membentuk jalur gempa dengan ribuan titik pusat gempa yang menjadikan Indonesia sangat rawan gempa bumi. Selain itu,
Wilayah Indonesia memiliki sabuk vulkanik sepanjang 7.000 km dari Pulau
Sumatra, Jawa, Bali, NTB, serta NIT. Terdiri dari 129 gunung berapi aktif (70
di antaranya sangat aktif) serta 500 gunung tidak aktif. Gunung berapi aktif
di Indonesia merupakan 13 % dari seluruh gunung berapi aktif di dunia. Selain
itu, wilayah pantai Indonesia sepanjang 81.000 km dengan pemukiman padat
merupakan wilayah dengan kerentanan dan berisiko terhadap bencana tsunami
dan gelombang pasang.

Peristiwa bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia merupakan gejala
yang tidak pernah dapat diperhitungkan oleh siapapun. Kerugian apapun yang
ditimbulkan selalu mengakibatkan dampak yang berkepanjangan terhadap
menurunnya kualitas hidup manusia, khususnya masyarakat yang paling rentan.
Selama beberapa dekade terakhir, kejadian bencana di Indonesia baik bencana
alam maupun non alam dari tahun ke tahun terus meningkat. Data dari BNPB
diketahui bahwa antara tahun 2003 s.d 2005 di Indonesia telah terjadi sebanyak

1.429 kejadian bencana. Dari data tersebut ternyata bencana hidrometeorologi
merupakan bencana yang paling sering terjadi yaitu sebesar 53,3 %. Dari total
bencana hidrometeorologi tersebut, kejadian terbanyak adalah banjir (34, 1 %),
dan disusul oleh tanah longsor (16%).


Masyarakat yang hidup disekitar daerah hazard (bahaya) terkadang tidak
menyadari bahwa bencana dapat terjadi kapan saja. Selain itu, bahkan sebagian
dari masyarakat justru melakukan eksploitasi lingkungan yang dapat memunculkan

bahaya-bahaya baru yang dapat menimbulkan risiko dan kerentanan masyarakat
di lingkungannya. Belum adanya kesadaran umum bahwa bencana darurat sekecil
apapun, juga berdampak pada rumah tangga ataupun masyarakat setempat,
yang pada akhirnya akan menimbulkan instabilitas kehidupan ditingkat lokal,
nasional maupun global. Realita ini mendorong perlu adanya kesiapan untuk
memprediksi, mencegah, mensiapsiagakan serta melakukan upaya-upaya
mengurangi dampak bencana yang terpadu dengan sistem respon bencana
maupun upaya-upaya pemulihan dalam sistem penanggulangan bencana, yang
mencakup periode pra-bencana, situasi tanggap darurat bencana dan paskabencana.
Konflik dan bencana menyebabkan banyak penderitaan. Namun, salah satu
akibat paling memilukan yang bisa terjadi ialah ketika anggota keluarga kehilangan
kontak dengan satu sama lain dan mereka tidak dapat memastikan apa yang
telah terjadi pada anak-anak, kakak, adik, istri, suami, atau nenek/kakek
mereka.

Pemulihan Hubungan Keluarga untuk para korban bencana dan konflik adalah
salah satu kegiatan Gerakan Palang Merah/Bulan Sabit Merah lntemasional yang
sudah berjalan lama. Pelayanan tersebut dilaksanakan oleh Gerakan sejak 1870,
tetapi Henry Dunant sendiri telah melakukan kegiatan pemulihan hubungan
keluarga pada tahun 1859, seusai pertempuran di Solferino. Perhimpunanperhimpunan

Nasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di seluruh dunia
merupakan sebuah jaringan luar biasa yang membentuk sebuah sistem global
untuk pemulihan hubungan keluarga. PMI adalah bagian yang penting dalam
rantai global ini, dan diharapkan PMI dapat menjalankan perannya dalam jaringan
RFL internasional tersebut. Apakah itu mengumpulkan atau menyampaikan
Berita Palang Merah (RCM) atau membuka atau melaksanakan permohonan
informasi pencarian, PMI harus berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi bagian
yang kuat dalam sistem RFL global ini. Jaringan internasional kegiatan RFL
Palang Merah dan Bulan Sabit Merah tersebut harus efisien supaya pelayanan
RFL dapat diakses oleh semua orang yang membutuhkan. Demikian pula, jaringan
RFL di lingkungan PMI, yaitu antara PMI Pusat, PMI Daerah, dan PMI Cabang,
harus kuat supaya dapat memberikan pelayanan RFL secara efektif kepada para
penerima bantuan (beneficiaries).

dalam rangka memelihara dan meningkatkan pelayanan Tracing yang efektif dan efisien, silahkan baca buku panduan RFL. buku panduan Restoring Family Links (RFL) adalah panduan praktis, buku ini berisikan dasar hukum dan peranan komponen gerakan dalam RFL, kebijakan serta prosedur dalam memberikan pelayanan RFL dalam masa normal dan juga tanggap darurat bencana. ingin mendapatkan buku tersebut silahkan hubungi PMI terdekat.




by. Bamisril (PMI Kota Padang) 

Baca Selengkapnya

Restoring Family Links ( RFL )


Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rawan bencana di dunia.
Wilayah Indonesia tepat berada pada cincin api (ring of fire) yakni pertemuan
tiga lempeng tektonik besar yaitu Indo-Australia, Eurasia dan Pasific. Tabrakan
antar lempeng tektonik tersebut membentuk jalur gempa dengan ribuan titik
pusat gempa yang menjadikan Indonesia sangat rawan gempa bumi. Selain itu,
Wilayah Indonesia memiliki sabuk vulkanik sepanjang 7.000 km dari Pulau
Sumatra, Jawa, Bali, NTB, serta NIT. Terdiri dari 129 gunung berapi aktif (70
di antaranya sangat aktif) serta 500 gunung tidak aktif. Gunung berapi aktif
di Indonesia merupakan 13 % dari seluruh gunung berapi aktif di dunia. Selain
itu, wilayah pantai Indonesia sepanjang 81.000 km dengan pemukiman padat
merupakan wilayah dengan kerentanan dan berisiko terhadap bencana tsunami
dan gelombang pasang.

Peristiwa bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia merupakan gejala
yang tidak pernah dapat diperhitungkan oleh siapapun. Kerugian apapun yang
ditimbulkan selalu mengakibatkan dampak yang berkepanjangan terhadap
menurunnya kualitas hidup manusia, khususnya masyarakat yang paling rentan.
Selama beberapa dekade terakhir, kejadian bencana di Indonesia baik bencana
alam maupun non alam dari tahun ke tahun terus meningkat. Data dari BNPB
diketahui bahwa antara tahun 2003 s.d 2005 di Indonesia telah terjadi sebanyak
1.429 kejadian bencana. Dari data tersebut ternyata bencana hidrometeorologi
merupakan bencana yang paling sering terjadi yaitu sebesar 53,3 %. Dari total
bencana hidrometeorologi tersebut, kejadian terbanyak adalah banjir (34, 1 %),
dan disusul oleh tanah longsor (16%).
Masyarakat yang hidup disekitar daerah hazard (bahaya) terkadang tidak
menyadari bahwa bencana dapat terjadi kapan saja. Selain itu, bahkan sebagian
dari masyarakat justru melakukan eksploitasi lingkungan yang dapat memunculkan
bahaya-bahaya baru yang dapat menimbulkan risiko dan kerentanan masyarakat
di lingkungannya. Belum adanya kesadaran umum bahwa bencana darurat sekecil
apapun, juga berdampak pada rumah tangga ataupun masyarakat setempat,
yang pada akhirnya akan menimbulkan instabilitas kehidupan ditingkat lokal,
nasional maupun global. Realita ini mendorong perlu adanya kesiapan untuk
memprediksi, mencegah, mensiapsiagakan serta melakukan upaya-upaya
mengurangi dampak bencana yang terpadu dengan sistem respon bencana
maupun upaya-upaya pemulihan dalam sistem penanggulangan bencana, yang
mencakup periode pra-bencana, situasi tanggap darurat bencana dan paskabencana.
Konflik dan bencana menyebabkan banyak penderitaan. Namun, salah satu
akibat paling memilukan yang bisa terjadi ialah ketika anggota keluarga kehilangan
kontak dengan satu sama lain dan mereka tidak dapat memastikan apa yang
telah terjadi pada anak-anak, kakak, adik, istri, suami, atau nenek/kakek
mereka.

Pemulihan Hubungan Keluarga untuk para korban bencana dan konflik adalah
salah satu kegiatan Gerakan Palang Merah/Bulan Sabit Merah lntemasional yang
sudah berjalan lama. Pelayanan tersebut dilaksanakan oleh Gerakan sejak 1870,
tetapi Henry Dunant sendiri telah melakukan kegiatan pemulihan hubungan
keluarga pada tahun 1859, seusai pertempuran di Solferino. Perhimpunanperhimpunan
Nasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah di seluruh dunia
merupakan sebuah jaringan luar biasa yang membentuk sebuah sistem global
untuk pemulihan hubungan keluarga. PMI adalah bagian yang penting dalam
rantai global ini, dan diharapkan PMI dapat menjalankan perannya dalam jaringan
RFL internasional tersebut. Apakah itu mengumpulkan atau menyampaikan
Berita Palang Merah (RCM) atau membuka atau melaksanakan permohonan
informasi pencarian, PMI harus berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi bagian
yang kuat dalam sistem RFL global ini. Jaringan internasional kegiatan RFL
Palang Merah dan Bulan Sabit Merah tersebut harus efisien supaya pelayanan
RFL dapat diakses oleh semua orang yang membutuhkan. Demikian pula, jaringan
RFL di lingkungan PMI, yaitu antara PMI Pusat, PMI Daerah, dan PMI Cabang,
harus kuat supaya dapat memberikan pelayanan RFL secara efektif kepada para
penerima bantuan (beneficiaries).

dalam rangka memelihara dan meningkatkan pelayanan Tracing yang efektif dan efisien, silahkan baca buku panduan berikut. buku panduan Restoring Family Links (RFL) adalah panduan praktis, buku ini berisikan dasar hukum dan peranan komponen gerakan dalam RFL, kebijakan serta prosedur dalam memberikan pelayanan RFL dalam masa normal dan juga tanggap darurat bencana.






Baca Selengkapnya
 
© Copyright by Perjalanan Hidup  |  Template by Blogspot tutorial